-Rembulan Di ujung Rindu-
Sesosok Rembulan teduh
Untuk mempersiapkan dan membekali diri mengikuti SPMB tahun ini, aku ikut bimbel intensif selama tiga bulan di Lembaga Bimbingan Einstein.
Di antara temen-temen bimbelku itu ada sesosok rembulan yang menarik dan terus terang mencuri perhatianku. Dia memakai jilbab sampai menutupi dada dan memakai pakaian yang menurutku agak aneh jubah; mirip pakaian wanita hamil. Pertemuan pertama bimbel hari ini adalah perkenalan dengan temen-teman seisi kelas.
“Hamzah”ketika giliranku berkenalan dengan dia. Dan aku mengulurkan tanganku
“Fahimah.”sambut dia singkat sambil menangkupkan kedua tangannya didepan dada. Seulas senyum renyah menyungging dari sudut bibirnya.
“Kamu dari mana?”
“Bandung, mas dari mana?”balas dia sambil menatap lantai kelas.
“Oh saya dari pulau seberang!”jawabku singkat memancing dia agar bertanya lagi.
Benar saja,”Maksudnya!”tanya dia mengejar
“Aku dari Riau”
“Oo…”hanya lontaran kecil itu yang keluar. Dan bertepatan dengan itu tentor memasuki ruangan.
Terus terang, materi Bahasa Inggris hari ini lewat tanpa bekas, aku masih bertanya-tanya kenapa Fahimah menolak jabat tangan dan selalu menunduk. Pikiran itu terus berkecamuk sampai aku pulang.
* * *
Tentang Dia
Ketika sampai kos,kuceritakan pengalaman perkenalanku dengan muslimah tadi ke Hanafi yang sudah semester dua, dia kuliah di UGM. Tentang pakaian dan tingkah, serta kenapa dia tidak mau bersalaman.
Hanafi hanya tersenyum, “Akhi…itu namanya jilbab.”
“Oh begitu. lho, lalu yang biasa dikenakan cewek-cewek gaul itu apa namanya? Kan itu juga jilbab meski pakai pakaian ketat dan menampakkan yang seharusnya tidak kelihatan.”debatku.. yah, soalnya aku sering melihat di jalan-jalan dan di Mirota Kampus Swalayan, banyak cewek memakai jilbab tapi memakai kaos ketat atau baju gaul. Meski aku tidak tahu motif mereka memakai itu untuk gaya ataukah untuk ketaatan.
“Ooo..itu lain, mungkin yang kamu maksud itu kerudung. Jilbab dan kerudung itu berbeda. Kalau jilbab itu jubah yang longgar dan menutupi seluruh tubuh. Tapi kalau kerudung….ya yang kamu maksud tadi. Dalam Islam para muslimah selain memang diwajibkan mengulurkan kerudung hingga menutupi dadanya mereka juga wajib mengenakan jilbab.”panjang lebar Hanafi menjelaskan tentang definisi jilbab. aku hanya bisa menganguk-angukkan kepalaku.
“Begitu ya!di kampungku di Indragiri Hilir kok jarang yang memakai pakaian jubah itu ya. Jangankan jilbab, kerudung saja jarang ada yang pakai, temen-temen SMU-ku cuma pakai kerudung kalau di sekolah. Ketika pulang kerumah, mereka melepasnya. Haram![1]…baru kali ini aku ketemu dengan model baju muslimah kayak begitu.”
“Wallahu a’lam kalau ditempatmu seperti itu. Yang jelas menurut kitab-kitab yang aku pelajari memang seperti itulah seharusnya pakaian yang sesuai syariat untuk kaum muslimah.”
“Kenapa ya! supaya nggak di gangguin preman ya?”tanyaku berseloroh.
“Itu hanya salah satu puluhan hikmah kenapa muslimah menggunakan jilbab. Selain karena kewajiban yang telah di bebankan oleh Allah Swt untuk hambanya yang takwa, salah satu hikmahnya memang untuk menjaga kehormatan dan kesucian muslimah itu dari gangguan yang tidak diinginkan.”
”Whatever-lah..yang jelas dia memang sesosok rembulan teduh yang kukagumi.”sahutku
“He-he-he pesona pertama memang biasanya begitu menggoda” goda Hanafi.
“Jujur…ada geletar aneh saja ketika kutatap sosoknya. Ada tetesan embun menyejuk kala kupandangi wajahnya, meski ketika kutatap dia selalu menundukkan pandangannya. Dia ibarat setitik oase di gurun Sahara. Dia bak rembulan yang mensinari bumi dengan kemilau ikhlasi” gumamku berpuitis-ria.
“Suit-suit…pujangga yang sedang merindu sepotong rembulannya yang terbelah nih!. Ehem.. siapa nama akhwat itu?” Tanya Hanafi lagi.
“Akhwat? makanan apalagi itu?” sahutku tak mengerti sambil berkelakar.
“Akhi…akhwat itu julukan yang melekat untuk para muslimah, termasuk the miracle akhwat yang kamu kagumi itu. Maksudnya muslimah yang benar-benar mengkaji Islam secara serius dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-harinya dan dia juga bersimpati dengan mengajak sahabat, keluarga atau orang yang dikenalnya untuk bisa mengamalkan Islam secara kaffah”
“Kaffah?” kupegang keningku dengan ujung jari telunjukku.
“Apa lagi tuh?” tanyaku penuh keingintahuan, maklumlah ilmu agamaku hanya sebatas bisa mengaji alqur’an, sholat dan puasa. Huff…ternyata banyak ilmu yang harus aku pelajari dan kukuasai.
“Kaffah itu maksudnya secara sempurna atau menyeluruh. Jadi selain beribadah dalam kehidupan pribadi atau dalam bermu’amalah kita juga harus menggunakan Islam. Jangan sampai kita memisahkan hal atau urusan pribadi dengan syariat.”
“Ooo..”hanya ungkapan kecil itu yang bisa aku lontarkan. Salut juga aku sama Hanafi yang mempunyai ilmu agama yang mumpuni.
“Oh ya.. siapa nama akhwat itu..”tanya Hanafi lagi
“Namanya Fahimah, dia dari Bandung.”
Ada senyum menyungging dari bibir Hanafi, akupun dibuat penasaran.
“Kok tersenyum, kenapa?”tanyaku
“Nggak kok. Tapi aku percaya, kekuatan cinta itu bisa menembus benteng sekokoh apapun, cahaya cinta akan membuat yang bakhil menjadi dermawan yang miskin berlagak kaya bahkan sang pendosapun bisa berlagak alim di hadapan sang pujaan.”jawab Hanafi sambil terkekeh.
Sejak saat itu, Hanafi banyak meminjamkan buku-buku keislaman dan majalah-majalah islami. Keinginanku untuk bisa memperdalam dan mengkaji Islam tertanam kuat di dada. Kemudian aku diajak halaqah[2] oleh Hanafi di Masjid kampus UGM tiap kamis sore ba’da Ashar.
* * *
Awal yang Indah saat kuliah
Alhamdulillah, akhirnya aku diterima di Sastra Inggris UGM. Sejak saat itu aku kehilangan kontak dengan sesosok rembulan teduh itu. Kabar dari Andre, teman satu bimbel denganku yang lulus di ITB, Fahimah lulus di Kedokteran Unpad Bandung.
Selain kuliah aku juga aktif di LDK[3] UGM, selain menambah sahabat dan mempererat tali ukhuwah, juga mencari lingkungan yang kondusif untuk belajar dan bergaulku. Aku selalu teringat dengan tausiyah[4] Hanafi, carilah teman yang bisa menyejukimu kala terik, memberimu warna dakwah kala kejahilan menebar, mengharumimu dengan parfum cerapan persaudaraan sejati kala sistem kebodohan diterapkan banyak insan.
Kucamkan setiap nasehat dari Hanafi, memang mencari teman sangat gampang. Tapi mencari sahabat sejati seumpama mencari jarum di lautan jerami.
Alhamdulillah, saat semester dua aku ditawari mengajar di Bimbingan Belajar kepunyaan temen satu LDK. Bisa menyisihkan sedikit uang untuk melunasi SPP, uang kos dan mencicil motor.
Semester enam aku sudah mempunyai lembaga kursus bahasa Inggris yang aku dirikan bareng temen-temen terpercayaku di kampus. Aku sudah tidak nge-kos lagi, tapi sudah ngontrak rumah di jalan Kaliurang bareng Hanafi. Dan Suzuki Sidekick telah terparkir di garasi rumah. Sempat aku merasa bimbang, apakah membeli mobil itu termasuk hal yang mubazir? ketika aku tanyain ke Hanafi di suatu senja.
“Akhi…bersikap zuhud[5] itu memang tuntunan Rasulullah, tapi bukan berarti kita menolak dunia. Khalifah Utsman itu seorang yang zuhud tapi beliau juga memakai unta yang bagus dan kuda yang tangkas. Juga Imam al-Laits, beliau selain termasuk imam fiqih, dia juga sangat luar biasa melimpah kekayaanya. Bahkan kebutuhan hidup imam Malik beliau cukupi, meski beliau berbeda pandangan dalam beberapa hal dengan sahabat dan guru fiqihnya itu. Dan yang sangat luar biasanya lagi, beliau itu mempunyai istana yang megah, kendaraan yang tangkas tapi setiap tahunnya tidak pernah mengeluarkan zakat. Kenapa? Bukan karena beliau pelit, tapi karena hartanya telah habis dia dermakan untuk kaum miskin-papa. Sehingga setiap tahun hartanya tidak sampai satu nishab[6], Subhanallah.. luar biasa kan! Jadi kalau kamu ingin mempunya mobil ya silahkan,agama tidak melarang kok.”
Setelah mendengar penjelasan panjang-lebar dari Hanafi, hatiku menjadi plong. Kemanapun aku pergi, Suzuki Sidekick itu selalu menemani, termasuk mengantar Hanafi mengisi kajian ditempat yang jauh atau saat lagi masiroh[7] di perempatan Kantor Pos Besar dekat dengan jalan Malioboro dan Shopping Center tempat buku-buku murah di Yogya. Pokoknya kendaraan untuk memperlancar dakwah.
* * *
Perpisahan dengan Sahabat
Tak terasa Hanafi telah selesai skripsi dan bulan Agustus mendatang dia akan wisuda. Terang saja aku sedih, kutahan agar dia bisa tetep mendampingiku menjadi mentorku dalam berdakwah. Tapi dengan bahasa
diplomatis dia menolak dengan halus.
“Syukron,[8] bukan aku menolak untuk tetap tinggal di Jogja dan menolak tawaranmu untuk jadi manajer di lembagamu akh…tapi aku diamanahi Abah dan ummi untuk menjalankan bisnis keluarga di Bandung. Saatnya untuk berbakti kepada mereka .”jawab Hanafi
“Tapi aku yakin, kamu sudah bisa aku lepas untuk menebarkan kebaikan dan menyadarkan ummah di birunya langit dakwah yang mempesona. Aku yakin dengan kemampuanmu.”tambah dia lagi sambil menepuk pundakku. Terasa ada kekuatan dorongan semangat yang dahsyat dari tangannya, mengalir merasupi relung-relung jiwaku.
Setelah acara wisuda selesai, Hanafi langsung dijemput Abah dan Ummi-nya. Aku turut membantu mengepak barang-barang Hanafi dan saat yang paling menjengkelkan dalam hidupku harus kualami ‘perpisahan’. Ya… aku paling tidak suka dengan kata itu, pasti ada guliran air bening yang akan mengalir. Tapi memang hanya lewat perpisahanlah seseorang itu akan terasa sangat berarti bagi kita, ada rasa kehilangan, rindu dan mengharu-biru pasti akan menyatu ketika bayangannya akan berlalu. Seperti ketika kita begitu menginginkan rembulan selalu datang ketika fajar menyapa pagi, dan kita akan merindu mentari kala senja berlalu.
“Ingat akh! jadilah engkau seperti petir yang bisa membelah angkasa, yang bisa memantik banyak orang agar terbakar. Jangan mau hanya menjadi kayu bakar, yang hanya menunggu orang untuk membakar dirinya. Menjadi petir atau menjadi kayu bakar itu adalah pilihan. Okay!, engkau sahabatku dan saudaraku di jalan Allah. Semoga hidupmu barakah, semoga tiap derap langkahmu untuk memancarkan pijar sinaran Ilahi di bumi yang di ridhai. Maafkan segala silap dan khilafku selama menjadi saudaramu.”Hanafi memelukku erat, tak kuasa aku menahan titik airmata yang jatuh.
“Sama-sama, syukron… sudah menjadi temen curhat, guru dan saudara yang selalu mengarahkanku.”sambutku lirih hampir tak terdengar karena kata-kataku serasa tersumbat tercekat diujung tenggorokan.
“Ok! aku tunggu undangan wisuda dan walimahan-mu[9]”kalimat canda yang memutus kesedihanku.
“Jelas dong, insya Allah aku kabarin kelak.” Sambutku dengan senyum lebar, memupus suasana sedih di antara kami. Kucium tangan kedua ortu Hanafi dengan takzim. Mobil Nissan Terrano itu pun lenyap di ujung perumahan, sesosok yang pasti aku rindui kelak.
* * *
Rembulan yang Kurindu
Alhamdulillah, akhirnya aku lulus juga setelah berjuang menyelesaikan skripsi selama satu semester. Perjuangan yang cukup melelahkan. Menguras tenaga dan fikiran.
Minggu depan aku akan wisuda selain memencet-mencet keypad hp-ku tentang kabar gembira ini ke abah dan emak di Riau. Aku juga memberi kabar gembira kepada sahabatku. Kuambil laptop di meja kerjaku dan kubuka inbox dan kukirim kabar kelulusanku ke Hanafi.
To : ikhwan_hanif@eramuslim.com
Subject : Datang ke wisuda ana ya!
From : hamzah_1924@alquds.com
Date : 12 Agustus 2007 (11:25 WIB)
Assalamu ‘alaikum wr.wb.
Semoga selimut cinta-Nya selalu menaungi tapak hidupmu.
Gimana kabarmu akhi? Bisnismu lancar juga kan?
Oh-iya, insyaAllah ana akan wisuda minggu depan, bisa datang kan! Kalau bisa sama Abah dan ummi karena abah dan ummiku juga insyaAllah datang ke Jogja. Kan nanti bisa kumpul rame-rame he-he-he.
B-t-w,[10] antum kapan nikah? Bisa nyariin sesosok rembulan terang dari Bandung nggak? he-he-he,becanda kok.
Aku tunggu yah kehadiranmu di wisudaku!
“…Sungguh aku mencintaimu karena Allah, Semoga engkau di cintai Allah, yang karena-Nya engkau mencintaiku.”[11]
Wassalamu alaikum wr.wb.
Saudaramu Fillah,
Hamzah nan faqir ilmu
Bip-bip-bip… laporan pesan terkirim muncul di monitor. Aku tinggalkan laptop, setelah panggilan muadzin memanggil untuk sholat. Lalu aku sholat zuhur berjama’ah dengan staf-stafku. Setelah shalat sunah ba’da zuhur aku kembali ke ruangan kerjaku.
Bip-bip monitorku menyala, ada email baru yang masuk.
Ketika kubuka ternyata dari Hanafi.
To : hamzah_1924@alquds.com
Subject : re:Datang ke wisuda ana ya!
From : ikhwan_hanif@eramuslim.com
Date : 12 Agustus 2007 (12:25 WIB)
Assalamu ‘alaikum wr.wb.
Semoga tetesan embun kasih-Nya selalu menerpamu saudaraku.
Kabarku di Bandung alhamdulillah sehat dan selalu dalam naungan-Nya, semoga engkau juga begitu.
Alhamdulillah, bisnis lancar. insyaAllah akan segera dibuka cabang di Jogja, jadi kita bisa sering ketemu nanti.
Insya Allah tahun ini ana nikah.
Akhwat Bandung!! memangnya di Jogja kehabisan akhwat apa, sampai minta dicariin di Bandung he-he-he, bercanda juga kok.
Tapi kalau kamu memang serius, ada lho akhwat yang siap nikah disini. Mau nggak? Dia insyaAllah mengenalmu dan kamu juga kenal dengan dia. Jika kamu mau dan siap… nanti kita bicarakan lagi. Ok akh!
Ana uhibbka fillah ya akhy! [12]
Wassalam ‘alaikum wr.wb.
Paris van Java, Jatinangor
Hanafi
Dag-dig-dug, denyut nadiku bersenandung cepat, setelah kubaca email balasan dari Hanafi. Ada raungan tanya yang menyergap. Siapa sih sang akhwat? Kata Hanafi dia kenal aku dan aku kenal dia, tapi siapa? Seingatku selama di Jogja aku belum pernah kenalan dengan akhwat manapun. Jangan-jangan Hanafi hanya bercanda dan menggodaiku saja, batinku.
Saking penasarannya, aku langsung sms ke Hanafi
Bisa online di YM[13] sekarang? aku mau nanyain tentang akhwat itu.
Tak lama balasan dari Hanafi datang
Afwan[14]…aku lagi ada meeting dengan kolega di Cimahi.He...he..he penasaran sama sang rembulan di langit hati nih ;-)
Aku balas lagi
Bisa online besok jam 09.00?
Balasan Sms dari Hanafi masuk lagi
Ok…
Terus terang untuk saat ini, menanti mentari menyembul kala pagi, serasa menunggu antrian mengisi BBM di SPBU selama tiga hari.
♥♥♥
Misteri sang Rembulan
Jam 09.00 di kantorku. Setelah buka laptop dan buka ID YM-ku.
Cring…..ternyata Hanfi sudah online.
Ikhwan_hanif : Assalamu ‘alaikum wr.wb.
Hamzah_1924 : Wa alaikumsalam wr.wb. apa kabarmu akhi?
Ikhwan_hanif : Baik, alhamdulillah. Kamu sendiri gimana? Cieee…yang lagi penasaran sama sesosok rembulan. He-he-he
Hamzah_1924 : Sehat dan baik, alhamdulillah bisnis juga lancar. Iya nih aku penasaran sama akhwat yang antum[15] tawarkan. Nggak bercanda khan? Soalnya kayaknya aku belum pernah ketemu dan kenalan dengan akhwat Bandung selama di Jogja.
Ikhwan_hanif : Ya enggak lah. Begini…dia itu sebenarnya adik kandungku sendiri. Kenapa aku ingin menjodohkan kalian berdua? Yah, karena selain aku sudah paham dengan sepak terjangmu, aku mempercayaimu sebagai saudara seiman, seperjuangan bahwa engkau bisa dan sangggup menjadi imam untuk dia. Selain itu aku ingin melekatkan tali ukhuwah[16] kita agar lebih merekat-erat. Tentang siapa dia, nanti akan kami pertemukan kalian berdua satu minggu lagi pas wisudamu. Untuk sementara engkau boleh shalat istikharah dulu.
Adik Hanafi? Lalu dia kenal dengan aku, dan aku juga tahu tentang dia? Kapan kenalnya? Siapa sih akhwat itu? Benar-benar sebuah misteri.
Hamzah_1924 : Ok..aku akan shalat istikharah dulu. Nanti aku telepon saja yah
Ikhwan_hanif : Ok…aku tunggu jawabanmu. Semoga bisnis dan ikhtiyarmu lancar. Wassalamu ‘alaikum.
Hamzah_1924 : Syukron, semoga bisnismu juga makin merebak meruah wassalamu alaikum.
Di layar monitor : Ikhwan_hanif has sign-out
♥♥♥
Bidadari di Langit Hatiku,
Besok pagi aku akan diwisuda. Abah dan emak sudah dari tiga hari kemarin datang di Jogja, dan selama itupula aku jadi guide pribadi, mengantar Abah dan Emak berputar-putar keliling Jogja mulai dari Malioboro, Tamansari, pantai Parangtritis, Kraton Kasultanan Yogyakarta dan Wisata Kaliurang tak luput dari tour dalam kota kami. Sebelumnya aku juga sudah memberitahu ke Abah dan Emak bahwa calon besan dan menantunya sehabis isya’ akan datang bersilaturrahim[17] dan sekalian ta’aruf. Beliau berdua dengan bijak menyerahkan sepenuhnya kepadaku siapa jodoh yang tepat. Aku bersyukur, karena kadang di kampung kami masih memakai adat yang kolot, kalau memilih jodoh kita kelak harus satu suku, bibit-bebet-bobot harus sesuai dengan standar orang tua.
Hanafi dan keluarga juga adiknya sudah sejak subuh tadi datang ke Jogja, tapi mereka masih rehat di hotel Hyatt Regency, sebuah hotel bintang lima yang paling bagus servisnya. di jalan Palagan Tentara Pelajar. Kami memang sudah membuat janji bahwa acara ta’arufku dengan adiknya Hanafi akan dilaksanakan sehabis sholat Isya’.
Jam 17.40 WIB
Nissan Terrano ber-plat Bandung terparkir di depan halaman rumahku. Aliran darahku semakin cepat, degup jantungku tak beraturan. Keringat dingin mengucur deras.
Aku dan kedua orang tuaku dengan hangat menyambut sang tamu istimewa di beranda depan rumah.
Pertama yang keluar dari mobil adalah Abi dan Ummi-nya Hanafi, kedua wajah bijak yang masih lekat di ingatanku setahun lalu. Lalu Hanafi keluar dari pintu depan bagian kanan.
“Assalamu alaikum”lontar Abi dan Umminya Hanafi.
“Wa alaikumsalam”berbarengan kami menjawab uluk salam
Setelah mencium kedua tangan Abi dan umminya Hanafi, kedua orang tuaku menyusul saling bersalaman satu sama lain.
“Mari masuk,” Abiku mempersilahkan kedua ortu Hanafi.
Tentu saja aku langsung menyergap dan memeluk erat Hanafi, sahabatku yang kurindu itu.
“Bagaimana kabarmu akh? sudah lama kita tidak bersua ya! “sapa Hanafi hangat.
“Alhamdulillah masih dalam lindungan Allah, kamu nampak sehat juga ya!.”jawabku sambil melirik ke arah mobil, karena aku tahu masih ada sesosok yang agak malu-malu tidak mau keluar dari sana.
“Oh-iya ada sesosok rembulan yang masih tertinggal di mobil nih, aku panggil dulu ya!” seperti mengerti dengan kegelisahan dan kepenasaran hatiku. Hanafi berbalik badan dan melambai ke arah mobil.
Dari balik remang-remang penerang lampu jalan di depan perumahan aku bisa melihat sesosok akhwat berjilbab[18] biru gelap memakai kerudung putih keluar dari pintu samping kiri. Masih nampak samar aku kurang jelas dengan pemandangan yang ada. Barulah berjarak lima meter di bawah naungan cahaya lampu taman, sesosok itu menampilkan cahaya kemilaunya.
Tercekat tenggorokanku, dia..dia…sesosok bayangan yang pernah aku kagumi. Sosok cahaya yang pernah bersemayam di pikiranku.
“Subhanallah, Fa..fa..himah”terbata aku mengeja sebuah nama yang telah kulupa dari ruang memoriku.
“Ya dia Fahimah, dia adik kandungku satu-satunya.”
“Bagaimana bisa !”aku geleng-geleng kepala tak mengerti
“Dia yang kuliah di kedokteran Unpad. Dia akhwat yang dulu kamu kagumi sejak masuk ke Jogja. Aku sudah banyak cerita ke dia tentang kamu. Juga tentang sang pemuja yang merindu sesosok rembulan sampai berpuitis-ria tuh he-he-he. Ketika kutanyakan apakah dia sudah siap nikah tahun ini, kalau ada ikhwan yang melamar, dia jawab insyaAllah siap. Ya sudah…terus kebetulan kamu mengirim email yang isinya ingin mencari bidadari dari Bandung, klop kan!”tanpa tedeng aling-aling Hanafi dengan panjang lebar menjelaskan sambil berbisik.
Entahlah, jika ada cermin di hadapanku, mungkin mukaku sudah tidak berbentuk sama-sekali,wajahku yang merona merah bak buah semangka yang terbelah.
Seulas senyum menghampiri
“Assalamu ‘alaikum akhi Hamzah.” Desisan suara itu bak siuran denting syair syahdu mengalun menyambar di kedua telingaku.
“Wa..wa.. ‘alaikum salam, silahkan masuk ukhti…”ucapku sambil kutatap lantai marmer rumahku. Ada geletar syahdu yang menyelusup di taman langit hatiku, ada keteduhan yang mengalir dalam darahku, ada buncahan gembira yang menari direlung sanubari, ada rasa tak percaya bahwa sang rembulan ternyata adalah wanita shalihah yang aku kagumi. Ya! …sesosok rembulan teduh yang menautkan hatiku sejak mata kami bertemu pada pandangan pertama. Meski aku tahu itu bukan cinta, tapi kekaguman atas pancaran pesona kecantikan karimahnya.
♥♥♥
Sekuntum Bunga di Langit Hatiku
Diruang tamu kami berkumpul duduk saling berhadapan. Acara ta’aruf[19] dipimpin oleh Hanafi.
“Bismillah….Atas nama keAgungan-Nya atas nama Kasih-Nya semoga acara ta’aruf ini di bawah naungan ridha dan barakah-Nya. Semoga semangat menyatukan dua belahan jiwa di bawah langit dakwah ini menghamburkan jutaan kemilau pahala. “ hening menyapu ruang tamu, lalu Hanafi melanjutkan.
“Majelis ta’aruf ini adalah sarana untuk saling mengenal antara dua insan yang akan mengarungi bahtera rumah tangga. Silahkan untuk akhi Hamzah terlebih dahulu untuk memperkenalkan diri…”suara Hanafi bak menyengat dari ketergagapanku.
“Assalamu alaikum..saya Hamzah bin Abdurrahman. Asal Indragiri Hilir, Riau. Sedang menunggu wisuda di Sastra Inggris UGM.”aku lalu menoleh ke arah Hanafi. Dia lalu menganguk.
“Sekarang giliranmu ukhti..”dia melirik adiknya yang duduk disampingnya. Fahimah mengangkat mukanya
“Wa alaikumsalam, saya yang dhaif[20] Fahimah binti Syaifullah, asal Bandung. Kuliah kedokteran di Unpad. insyaAllah wisuda satu minggu lagi.” Selesai berkata Fahimah memandang kebawah lagi.
“Alhamdulillah, sekarang silahkan mengutarakan visi dan misinya masing-masing dalam membangun ‘rumah cinta’ baru, agar tak ada yang tersembunyi di hati. Agar kejelasan memancar dengan terang.”lanjut Hanafi, dia melirikku.
“Sebuah rumah takkan tegak tanpa pondasi. Visi dan misi saya selain menyempurna separuh agama adalah membangun ‘rumah cinta’ yang dilandasi keimanan. Syariat sebagai pilarnya dan ridha Allah dan Rasulku nan kutuju juga sebagai pengokoh derap dakwah. Aku akan berbagi kebahagiaan dan juntaian ribuan pahala dengan bidadariku kelak. Aku akan menerima apa adanya dia, dengan kelebihan dan kekurangannya. Aku harap kelak dia akan mengingatkan aku bila terpeleset dari syariat, menjadi ummi dan pelindung anak-anakku, sebagai pengobat rindu kala rindu mendera, sebagai penyala obor cinta ketika cahaya cinta meredup sayu melayu, dan merelakanku dengan ikhlas apabila panggilan jihad berdentang berkumandang.”dengan nada bergetar kuucapkan.
Hanafi melirik Fahimah. Dan lagi-lagi Fahimah mendongakkan paras mukanya lalu menjawab.
“Saya ingin sesosok pangeran hati yang kurindu itu seorang yang berbaju takwa, jihad cita utamanya, penyayang dan penyabar menerima apa adanya diriku. Dia seseorang yang bahunya bisa untuk bersandar kala aku dalam masalah, tempat berbagi senyum dalam naungan ridha-Nya. Sebagai imam dalam keluarga mungilku kelak.”ketika aku memandanginya tak sengaja dia juga mencuri pandang kearahku. Ketika mata kami bertemu, kulihat ada cahaya dikelopak matanya. Mata bening yang mewarisi kecerdasan bunda Aisyah, ada kelembutan yang memancar dari Fathimah az-Zahra.
Ada pancaran lega dari wajah Hanafi, ”Apakah ada yang ingin diutarakan atau ditanyakan sebelum acara ta’aruf ini saya tutup?” hening sejenak menaungi ruang tamu.
Tiba-tiba, Fahimah mengangkat paras dan tangannya.
“Boleh saya menanyakan satu hal kepada kepada akhi Hamzah?” Hanafi memandangku meminta persetujuan, akupun menganguk.
“Adakah seseorang yang mengisi di ruang hati akhi Hamzah sebelum ta’aruf ini?” pertanyaan singkat yang menyentakku.
“Apakah pertanyaan ini wajib dijawab?”tanyaku
“Iya !”sahut Fahimah tegas.
Aku menghela nafas dan menghembuskannya perlahan.
“Terus terang, sebelum ta’aruf ini saya memang mengagumi pesona seseorang. Dia cantik secantik Fathimah binti Muhammad, dia pemberani sepemberani Asma binti Abu Bakar, syahidah cita melangitnya. Terus terang, sampai saat ini saya masih mengaguminya dan sangat sulit untuk melupakan pesona dirinya, mungkin selama hayat masih dikandung badan.”aku melirik Fahimah, kulihat ada setetes bening di kelopak matanya, lalu bergulir di pipinya yang putih bersih. Ada rasa sesal yang memancar dari dirinya karena telah melontarkan pertanyaan yang jawaban yang begitu tidak disangkanya ternyata telah menoreh dan menyayat jiwa. Meski aku tahu dia berusaha sekuat tenaga untuk membendungnya. Tapi ledakan dari sumur hatinya benar-benar tidak bisa ia tahan lagi.
Ruang tamu kini senyap, hanya dihiasi senandung detakan jam dinding yang terus bertalu tiada perduli.
“Sejujurnya Bidadari yang kukagumi itu sekarang ada di dekatku. Dia sudah nyata dihadapanku.”lanjutku memecah keheningan, sambil tersenyum lebar.
“Maksudnya!”tanya Fahimah sambil mengusap tetesan airmatanya memandangku. Tanda tak mengerti maksud ucapanku.
“Ya…Bidadari itu adalah engkau ukhti. Sejak perkenalan kita yang pertama dulu, sungguh sangat membekas dalam relung jiwaku. Dan aku tidak menyangka bahwa Allah Swt. akhirnya menganugerahkan dirimu untuk menjadi Bidadari di langit hatiku.”jawabku tegas.
Ada rona merah merebak di wajah Fahimah, ah..rembulan itu benar-benar begitu mempesona begitu sempurna. Ada senyum dan helaan lega dari Abah dan ummiku juga orang tuanya Hanafi. Ada senyuman kecil yang menggoda dari Hanafi untuk Fahimah. Dan tahulah Fahimah sekarang, kalau dirinya baru saja dikerjai habis-habisan oleh kakaknya.
Ouuuuuuuwgh…!!! jerit Hanafi, ketika jemari lembut Fahimah membentuk tang penjepit dan menyentuh perut Hanafi. Kami semua tersenyum melihat keakraban kakak dan adik itu.
Setelah ta’aruf kami putuskan bahwa khitbah,[21] dan walimah akan dilaksanakan sore setelah Fahimah selesai acara wisuda di Unpad.
“Alhamdulillah, Allah Sang Penggenggam Alam Malakut[22], semoga keluarga mungil kalian barakah kelak. Semoga sinar cinta-Nya menaburi kalian. Semoga acara ta’aruf ini menjadi pengokoh dua keluarga besar untuk melekatkan temali persaudaraan.” Hanafi menutup acara. Abah dan ummi-ku juga orang tuanya Hanafi merekahkan senyum lebar. Binar-binar bahagia terpancar dari wajah mereka.
Benar kata Hanafi, bahwa ‘cahaya cinta bisa mengubah dunia’ dan seisinya. Hatiku pun bersenandung riang,
Duhai rembulan….
Kerindu sinar kala senja padam
Kurindu peluk syahdu kala selimut malam menyapu
Kurindu teduh lewat senyum takwamu
Betapa bahagia memetikmu atas izin-Nya
Esoknya aku diwisuda di Graha Sabha Pratama UGM. Yang hadir di acara wisudaku selain kedua orangtuaku hanya Hanafi .
♥♥♥
Mewangi Bunga Surga,
Aroma harum semerbak menerpa, semilir angin menghantarkan hembusan firdausi, awan bergerak berbaris di birunya cakrawala membalut suasana Bandung hari ini. Setelah acara wisudanya Fahimah selesai, sorenya akad pun kami kumandangkan dan ungkapan syukur walimatul ursy[23] secara sederhana kami gelar di rumah keluarga Hanafi.
Setelah itu Fahimah akan ikut aku ke Jogja dan co-ass[24] di RSUD Dr. Sardjito.
Sejak saat itu senja selalu menyapa bumi dengan indah, karena cahaya sang rembulan memancarkan kemilau keikhlasan. Membaluti kehormatan dan kesucianku, menselimuti dengan keistiqomahan dirinya, menebarkan pendar-pendar kemilau Islam. Meramaikan bumi Ilahi dengan jundi-jundi[25] Allah dengan polesan kesabaran dan ketakwaan.
Dan satu belahan jiwa takkan sempurna kala sang rembulan belum terengkuh atas izin-Nya
♥♥♥
Alhamdulillah, wa shalawatu ‘ala rasulillah
Allah Sang Penebar Cahaya Cinta di hamparan langit dan mayapada
Yogyakarta 26 Juni 2007 16:54
Kurevisi 28 Juli 2007 18:39
Sebagai Untaian Doa, Lantunan Syukur dan Kado Cinta
Untuk Shahabatku
Akhi Aris dan Ukhti Sariningsih
Mengembangkan Layar Kehidupan Baru
Di birunya Langit Dakwah
Semarang, 7 Juli 2007
Kedesahkan lisanku, kuucap dengan tengadah jemari
“Barakallahu laka wabaraka alaika
wajama’a bainakuma fii khair…
Selamat melabuh dan merapatkan cinta
Semoga berkah Langit merekah meruah kepada kalian berdua..”
Turut Bersuka Cita
Saudaramu fillah&billah-
Apu’ El Indragiry
· Sebuah cerpen yang terinspirasi oleh pesona kota Jogja, juga puisi Pacar Dunia Akhirat, Duhai Indahnya Jilbabmu, Pangeran Hati yang Kurindu
· Kala kukenang saat perpisahan dengan musyrifku nan mengharu biru. He-he-he, ikhwan kok nangis! Lho…ikhwan kan juga manusia
Referensi :
Syekh Taqiyuddin an-Nabhani.”Nizham al-Islam” (2001, Pti, Bogor)
Syekh Taqiyuddin an-Nabhani.”Nizham ijtima’I fii Islam” (2001, Pti, Bogor)
Mohammad Fatih Indragiry.”Puisi-Puisi Cinta”lembar file.
[1] Bhs. Melayu, semacam kata penekanan untuk meyakinkan orang, seperti: suer!, sumpah!,yakin!, sumpeh
[2] Pembinaan intensif (tastqif murakazzah)
[3] Lembaga Dakwah Kampus
[4] Nasehat
[5] Menghindari sikap cinta dunia
[6] Ukuran untuk mengelurkan zakat
[7] Menyampaikan aspirasi,ide di jalan
[8] Terima kasih
[9] Pernikahan
[10] By the way = ngomong-ngomong
[11] HR. Abu Dawud
[12] Aku mencintaimu karena Allah, saudaraku
[13] Yahoo Messenger
[14] Maaf
[15] Kamu
[16] Persaudaraan
[17] Berkunjung
[18] *Jilbab bukan kerudung, tapi baju terusan (Jubah) yang longgar. Dikutip dari buku Puisi-Puisi Cinta
[19] Acara perkenalan, sebelum menikah
[20] Lemah
[21] Lamaran
[22] Kekuasan, Kerajaan
[23] Acara syukuran pernikahan
[24] Co assistant/ kuliah praktek selama dua tahun
[25] Prajurit

2 comments:
wah bagus banget alur ceritanya, enak di baca, berakhir hapy ending, kayaknya bakat banget jadi cerpenis/fiksi islami...lam kenal yaa
dari masgagah07@yahoo.co.id
wah bagus banget alur ceritanya, enak di baca, berakhir hapy ending, kayaknya bakat banget jadi cerpenis/fiksi islami...lam kenal yaa
dari masgagah07@yahoo.co.id
Post a Comment