Welcome...

salam

Friday, August 3, 2007

Kado Dari Seorang Teman Dunia Maya

Diujung Penantian Rindu

“Datang ke acara walimahanku ya! Duhai cintaku, duhai cahaya di langit hatiku"
Itu pesan pendek dari Meutia, shahabatku sejak kecil. Dia akan merengkuh sang belahan jiwa, seorang ikhwan aktivis LDK di kampus Unsyiah. Rencananya tanggal 23 Desember besok acara akad nikah dan tanggal 25-nya ada acara syukuran hari bahagianya. Aku ‘wajib’ datang katanya. Sebenarnya, meskipun dia tidak meminta aku pasti akan pulang untuk berbagi mewangi aroma bunga cinta dengannya.
Kubalas sms-nya
“Tentu cinta, kebetulan aku tinggal menunggu skripsiku di-acc[1] dosen. Insya Allah besok aku berangkat dari Bandung. Kamu minta oleh-oleh apa?”
Layar hp-ku berkedip lagi
“Tiada yang lebih membahagiakan dalam hidupku, cukuplah arti hadirmu menjadi kado terindah dalam samudera bahagiaku he-he-he”
Akupun tersenyum melihat balasan sms-nya satu minggu yang lalu.
Sehabis sholat Ashar, aku mengambil tiket di agen bus yang sudah aku pesan dua hari yang lalu. Aku sekalian mampir di toko buku Cahaya Ilmu dekat dengan Cihampelas.
Kuambil novel The Miracle Akhwat[2] dari rak buku bagian fiksi islami, sebagai kado pernikahan mereka berdua. Melihat judul dan sinopsis novel itu, membuka tali kenanganku dengan Meutia. Dia lebih dulu berjilbab dan aktif sebagai ketua keputrian di Rohis SMU Al-Quds. Sungguh aneh cara dia mengingatkanku. Suatu hari menjelang naik kelas tiga dia memberiku secarik kertas biru langit… tergurat sebuah puisi
Duhai indahnya jilbab[3]mu-
Kedamaian nan memancar
Sorot mata keanggunan
Bumipun menyungging senyum memandang

Membuat diri terjaga
Kebersihan hati...
Ketinggian tsaqofahPesona akhlak
Engkau balut dengan ‘Jubah Langit’[4]

(Sebait puisi untuk bidadari kecilku)
Cintamu: Cut Meutia-

Ada kristal-kristal bening bergulir di pipiku, bila mengingat semua itu. Dia memang shahabatku, shahabat tak hanya dikala senang saja, tapi ketika sang shahabat belum mendapat cahaya Ilahi, dia begitu gigih untuk berbagi. Berbagi nikmatnya mengecup gurih ridha Ilahi.
Kutepis sepenggal kisah tentang jilbabku. Aku menghampiri kasir dan mengeluarkan uang lima puluh ribuan dari dompet.
“Ini kembaliannya mbak.”kulirik name-tag[5] di baju seragamnya, terukir nama Netti disana. Dengan rekahan senyum dia menyerahkan selembar duapuluh ribuan.
“Bisa sekalian dibungkus dengan kertas kado mbak?”pintaku
“Oh tentu.”dengan cekatan, hanya sepuluh menit novel itu sudah terbungkus rapi.
“Terima kasih mbak Netti”kusunggingkan senyum bersahabat, sambil mengambil bungkusan rapi itu.
Ada rona keterkejutan di pipinya
”Sama-sama mbak cantik.” Balasnya sambil melemparkan senyum manis kearahku. Mungkin dia agak terkejut ketika ada sesosok yang memperhatikan pegawai kecil seperti dia. Bukankah membuat orang lain bahagia dan tersenyum itu berpahala?
***
Bandung, 22 Desember 2004
Semilir angin meniup kerudung dan jilbabku, meski cahaya hangat menyelusup di kota kembang siang ini, tapi pori kulitku tetap menggigil serasa ditusuk-tusuk air es. Kudekap lebih erat tubuhku ke jaket yang aku kenakan.
Jam 13.30
Aku tiba di loket bus Patas Executive ‘KURNIA’ jurusan Bandung–Aceh. Bus akan berangkat jam 14.00 nanti. Tadi sholat Zhuhur dan Ashar sudah aku qasar[6] dan jamak[7] sekalian di kos.
Hp-ku berderit...dari Meutia
“Cinta.. jam berapa busnya berangkat?”
Kubetulkan kacamataku
“Insya Allah sekitar setengah jam lagi. Bagaiman persiapanmu?”
Ku klik send
“Alhamdulillah, insya Allah lahir batin aku siap. Eh cinta...kenapa dadaku berdebar-debar ya?”
Dasar...
“Bilang saja mau pamer he-he...ya itu sesuatu yang wajar. Ketika kamu biasanya sendiri, lalu tiba-tiba disampingmu ada orang yang tidak kamu kenali menghampiri dengan membawa ketulusan hati bertabur aroma cinta Ilahi. Tentu jiwamu akan bersenandung degup hati.”
Ringtone smsku berbunyi lagi....
“Duh.. yang calon psikolog:-) Oh-ya jangan tersinggung ya!, Kapan ukhti nyusul?”
Memerah kedua pipiku...
“InsyaAllah nyusul kok. Lagi masukin proposal ke musyrifahku[8]. Ada ikhwan dari Yogya yang ingin ta’aruf. Doakan ya!” kubalas lagi sms-nya
“Tentu ...oh-ya aku tinggal dulu ya!. Lagi banyak tamu nih. I miss u.. muah-muah-muah”
Bersamaan dengan itu panggilan untuk penumpang jurusan Aceh berkumandang dari kantor agen bus.
“Silahkan untuk penumpang jurusan Aceh naik ke bis, kita berangkat sepuluh menit lagi.”
Bus terisi penuh, aku mendapat kursi nomer dua belas, dan syukurlah teman sebangku-ku seorang akhwat. Aku memang paling tidak suka duduk sebangku dengan laki-laki yang bukan mahramku[9], apalagi inikan perjalanan jauh, lebih dari sehari semalam. Sebenarnya aku sudah meminta keponakanku untuk menemani pulang, sayangnya dia masih ada ujian akhir semester di Unisba. Terpaksa aku pulang sendiri kali ini. Tadi memang sudah aku niatkan dari rumah, kalau teman sebangku-ku laki-laki aku akan minta ke pak sopir untuk dipindahkan ke kursi lain yanga ada wanitanya.
Ada segenggam doa hati yang kuuntai agar perjalananku di bawah naungan perlindungan-Nya.
“Bismillahi tawakaltu ‘ala Allah lahaula wala quwwata illa billah”[10]
“Allahu ya hafidz”[11]
Pegawai loket memeriksa tiket semua penumpang, setelah tidak ada penumpang yang tertinggal, bus pun mulai merayap pelan meninggalkan keramaian kota kembang.
Gumpalan-gumpalan putih terlukis di birunya langit mengiringi perjalanan lintas pulau selama dua hari tiga malam-pun mulai terukir. ‘Sebuah perjalanan adalah saat-saat indah untuk meraup jutaan inspirasi’[12] itulah satu kalimat bijak yang kukutip dari shahabatku di Medan. Aku paling suka menulis letikan-letikan ideku untuk menatah bait-bait romansa puisi. Dan perjalanan panjang adalah saat indah memetik buah hikmah.
“Turun di mana mbak?”pertanyaan akhwat yang duduk di kursi samping menyadarkan dari lamunanku.
“Oh...saya turun di Banda Aceh. Kalau ukhti?”aku balik bertanya.
“Saya turun di Pekanbaru. Oh-ya kenalkan saya Nadhifah” akhwat itu mengulurkan tangannya.Kusambut dengan hangat jemari lembutnya.
”Saya Sarah.”
“Nadhifah kuliah dimana?”aku balik bertanya
“Saya di UPI jurusan Kimia, kalau ukhti?”
“Oo..kalau saya di Unpad ambil Psikologi.”
Bus terus merayap melalui jalan-jalan berbukit. Kadang naik dan kadang meluncur turun menyusuri jalanan yang curam. Kota kembang sudah jauh terlewat dibelakang.
“Kok pulang sebelum liburan?” tanya dia lagi.
“Shahabat saya akan menikah, jadi saya pulang. Kebetulan saya sudah tidak ada materi kuliah lagi. Maksudnya tinggal menunggu skripsi saya di-acc dosen, kalau ukhti?”
“Wah kok sama ya! Kalau saya, ada paman yang akan menikah di Bengkalis. Cuma kepulangan kali ini dipaksa oleh orangtua, jadi bolos kuliah ceritanya he-he-he”
***
Bus berhenti sebelum masuk ke Tol Jagorawi di daerah Purwakarta, untuk istirahat di RM Kuring, rumah makan khas Sunda.
Setengah jam kemudian bus merayap lagi, memasuki tol Jagorawi. Langit mulai memerah kekuning-kuningan berpendar, mentari nampak membulat samar di ufuk Barat. Lampu-lampu kota metropolitan Jakarta mulai berkelap-kelip.
Kota yang banyak membius kaum pinggiran untuk mengundi nasib di tempat yang tiada kenal belas kasihan ini. Gedung-gedung pencakar bak menantang penghuni langit dengan jumawa.
Anehnya negeri yang kaya ini, kata Bank Dunia dan IMF, negeri ini berkembang dengan pesat ekonominya, termasuk juga kata ‘penjilat ekonomi’ John Perkins dalam bukunya ‘Confession of an Economic Hit Man’. Tapi nyatanya gembel-gembel bak lukisan bertebaran di setiap sudut jalan, bayi-bayi meraung-raung kelaparan di seluruh pelosok negeri.
Andai khalifah Umar ibn Khattab dan keturunannya yang adil, yaitu Umar ibn Abdul Aziz[13] tahu, mungkin para penguasa dunia Islam sekarang akan dimaki habis-habisan oleh beliau berdua. Penguasa saat ini bukannya menjadi khadimul ummah[14] tapi malah meminta dilayani ummah bak Raja Fir’aun.
Kekuasaan bukan lagi sebagai amanah tapi sebagai alat menjajah. Sungguh ironis, menangislah Abu Bakar sang dermawan, menggeram-bergemerutuk-lah gigi Sayyidina Utsman dan Ali ra. Dan terputuslah-lah kelak syafaat[15] baginda Rasulillah Saw untuk para penguasa pengkhianat ummah.[16]
Bibirku merekahkan sunggingan kecil. Lebih laiknya mencibir dunia kekuasaan sekarang. Tentu saja tingkah polahku membuat tanda tanya dibenak shahabat baruku,“Kenapa ukhti tersenyum?”
“Sungguh aneh ya...ketika kita membandingkan kota ini dengan kampung kita. Bayangkan berapa triliunan galon minyak yang dikeruk di Riau. Berapa milyaran tabung gas yang dihisap PT. Arun di Aceh semuanya untuk mempercantik ibukota ini. Aku pernah membaca di koran kalau suku Talang Mamak[17], nasibnya begitu menyayat hati. Begitu juga nasib anak-anak di Aceh, daerah kita kaya tapi menderita.”aku bergumam lirih sambil telunjuk jemari mengarah ke gedung-gedung pencakar langit di sisi jalan.
“Tidak usah merasa aneh ukh. Ditempat kami hanya orang-orang tertentu yang dekat dengan perusahaan dengan PT. Caltex saja yang makmur. Sedang yang tidak bekerja disana nasibnya juga sama.”timpal Nadhifah.
”Nasib daerah kita sama, kita tidak bisa menjadi tuan di negeri sendiri. Negeri ini benar-benar telah tergadaikan. Negeri ini hanya taat pada korporasi internasional, jadi wajar meski Sumber Daya Alam kita melimpah, tapi kita tetap saja terjajah. Sepertinya ‘sistem’ yang diterapkan negeri ini memang salah dan merusak.”lanjut dia dengan mengepalkan kedua tangannya.
Aku menganguk setuju dengan pendapatnya,”Ya..korporat-korporat asing[18] itu telah mejadi Tuhan disini. Dengan enaknya dia memaksa pemerintah membuat UU dan regulasi yang menguntungkan bisnis mereka. Tak perduli itu hak ummah, mereka memalak seperti preman jalanan. Mulai dari emas sampai tetesan minyak mereka dengan rakus melahap dan menghisapnya. Bahkan ‘tinja’ pun dibisniskannya. Padahal itukan wilayah umum yang tidak boleh dikuasai oleh individu. Seharusnya pendidikan, keamanan, dan jaminan kesehatan untuk rakyat wajib gratis.” Aku menguatkan pendapatnya.
Deru mesin bus terus mengalun, bus merayap cepat masuk ke Tol Merak-Serang. Saat Maghrib kami sudah berhenti di rumah makan di dekat pelabuhan Merak. Kami sholat maghrib dengan berjama’ah.
Ba’da[19] ‘isya, bus memasuki kapal penyebrangan JATRA II, aku dan Nadhifah memutuskan untuk naik ke anjungan atas kapal. Menatapi taburan gemintang di hamparan cakrawala, cahaya syahdu rembulan mulai memaksa menyelusup ke mayapada. Sekarang tanggal lima belas menurut kalender bulan. Separuh bagian rembulan mulai nampak di ufuk Timur.
Sungguh indah panorama kreasi Sang Maha Indah, bersujud syukur insan mengharap berkah. Sungguh panorama memukau untuk sesiapa yang men-tafakuri[20] ayat kawliyyah[21] dan membaca ayat kawniyyah-Nya[22]. Aku teringat dengan bait syair yang disenandungkan oleh ibn Rusdy ‘aku berpikir, maka aku ada’
Tiba-tiba hp-ku berdering. Meutia nelpon? tumben...biasanya dia cuma sms saja.
Klik
“Assalamu alaikum, duhai rembulanku...sudah sampai mana sekarang?”suara syahdu melembut dari seberang sana.
“Wa ‘alaikum salam, ini lagi melintasi Selat Sunda.” sambil kubetulkan kerudungku yang tertiup angin sepoi laut.
“Tumben..kok nelpon?”aku menggodanya.
“Tidak boleh ya?”ada nada merajuk diujung sana.
“Bukan begitu cinta. Aku cuma merasa surprise saja. Eh.. bagaimana taman langit hatimu sekarang, cinta?”
“Tidak bisa diungkapkan dengan barisan kata, dadaku benar-benar bergemuruh, jantungku berdenyut cepat.” Suara diseberang sana sangat renyah, seperti rembulan di ufuk timur yang menampakkan diri malam ini.
“Banyak-banyak memohon kemudahan dan ridha-Nya, agar akadmu besok berjalan mulus.”
“Tentu cinta! Aku benar-benar butuh pundakmu untuk berbagi. Rasanya putik-putik bunga di taman langit hatiku bermusim semi. Ah...mewanginya bunga cinta....Kuharap aku akan memetik citarasa harum atas seijin-Nya. Aku harap aku akan menciumi bunga surga-Nya. Untaikan doamu ya rembulanku, cahaya di langit hatiku.”mau tidak mau aku juga menampakkan kedua barisan gigiku mendengar syair bahagianya Meutia
“Tidak ada yang paling membahagiakanku selain menatap kedua kelopak matamu bercahaya riang. Melihat taman bunga cinta tumbuh bersemi di langit hatimu, hatikupun berbunga doa, agar kelak keluarga SAMARA[23] yang kalian pupuk menaburkan benih-benih kebaikan. Prajurit-prajurit kecilmu kelak akan menjadi permata zamrud di lautan dakwah, menjadi pembela-pembela Islam dengan gagah. Aku juga berharap-pinta agar kebahagiaanmu menulariku secepatnya.”
“Amin...kamu memang shahabat terbaik-ku. Ah aku jadi tidak enak hati, engkau jauh-jauh balek ke Bumi Rencong hanya untuk berbagi bahagia denganku.” Ada nada gemuruh haru yang kutangkap.”Sudah tentu, aku juga selalu berdoa agar kamu bisa secepatnya menyusulku. Intinya: jangan terlalu meninggikan kriteria untuk calon belahan jiwamu kelak. Sungguh..tak ada nan sempurna di dunia ini. Boleh memang kita berikhtiar mencari yang terbaik, karena itu memang wilayah yang diperbolehkan. Tapi, angan jangan terlalu dilambungkan ditingginya awan, nanti dia tidak akan terjangkau oleh tapak jemarimu. Asal dia se-fikrah[24] cukuplah itu menjadi pengukur kita.”dia melanjutkan lagi.
“Baiklah ustadzah...”timpalku menggodanya.
“Sudah ya...besok pagi sehabis acara akad aku telpon lagi. Daaa...cinta-ku. Tetaplah menjadi rembulan teduh yang selalu menerangi bumi dengan cahaya kemilaumu, meski banyak insan yang mencibiri dakwah yang kita semai. Wassalamu ‘alaikum.” Perlahan suara diseberang sana menghilang.
“Semoga aku bisa bercermin dari tiap untaian katamu. Wa ‘alaikum salam.”
Klik
Kumasukkan hp-ku ke tas. Nadhifah mendekat, “Temen ukhti ya! Kok kayaknya dia bahagia sekali.”
“Iya, dia temanku yang mau menikah itu. Insya Allah besok prosesi akad nikahnya.”
“Semoga menjadi keluarga sakinah, semoga berkah langit menumpah dengan melimpah.”ucap Nadhifah tulus, sambil merekahkan bibirnya.
“Amin...”akupun menyambut doanya.
Kami bersandar di pagar dek kapal sambil memandangi buih-buih putih yang saling berkejaran di bawah sana. Kerlip lampu di pelabuhan Merak mulai lenyap, tinggal birunya samudera yang membentang terpantulkan oleh sinar rembulan.
Entahlah... tiba-tiba saja mataku berkunang-kunang, kepalaku terasa agak berat.
“Ukhti...tidak tahu tiba-tiba saja badanku terasa tidak enak.” Melihat mukaku yang memucat Nadhifah menggandeng lenganku.
“Yuk kita turun saja. Sebaiknya ukhti istirahat.” Kami berdua lalu turun kembali ke bus. Ada beberapa penumpang yang tidak naik ke dek atas kapal. Nadhifah mengambil minyak kayu putih di tas dan mengoleskannya di keningku. Dia menyorongkan ujung jari telunjuknya yang sudah diolesi minyak ke lubang hidungku untuk kuhirup.
Alhamdulillah, sakitku sedikit berkurang. Kuambil selimut dan bantal dari sandaran kursi, kunaikkan foot-rest[25] kursiku lalu kuselonjorkan kaki dan kurebahkan tubuhku.
“Bagaimana ukh..sudah berkurang sakitnya?”tanya Nadhifah dengan nada khawatir.
“Alhamdulillah, sudah lumayan kok. Syukron ya! tidak tahu, biasanya aku tidak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya.”ujarku.
Aku juga heran, biasanya kalau kapal sedang menyeberang dari Merak ke Bakaheuni ketika pulang kampung aku selalu naik ke dek atas kapal dan tidak pernah merasa sakit seperti ini, sungguh aneh!
“Mungkin angin laut malam ini tidak bershahabat dengan ukhti.”hiburnya.
“Ya-ya..”aku menghibur diriku sendiri.
Kuambil al-Qur’an mungilku di tas, kubaca surat at-Takatsur sampai surat an-Nas. Sudah menjadi kebiasaanku untuk membaca surat-surat pendek sebelum memejamkan mata. Kulihat Nadhifah sedang asyik larut melihat film ‘Kingdom of Heaven’ yang diputar oleh crew bus.
***
Meutia-ku terlihat anggun, memakai jilbab warna krem muda dipadu kerudung putih polos, dia juga mengenakan mahkota bertahtakan zamrud di atas kerudungnya, ia kini bak Ratu Cleopatra. Sungguh perpaduan yang serasi antara pesona paras alamiah dan warna jilbab yang dikenakannya. Tidak ada polesan make-up di wajahnya, tidak ada lukisan tinta di kedua alisnya juga tidak ada bau wewangian dari tubuhnya. Tapi di kamarnya telah tersedia parfum Kenzo non-alkohol yang hanya akan dia pakai ketika ‘malam merindu surga’ tiba, parfum yang hanya dikhususkan untuk Pangeran di Langit Hatinya.
Ya..hari ini dia ingin menjadi seorang Ratu, meskipun hanya untuk sehari katanya, sambil bercanda.
“Bagaimana cinta dengan dandananku? Cocok tidak?”sambil mematut-matutkan dirinya di cermin besar di kamarnya.
“Subhanallah, cocok. Sepertinya para foto model di Jakarta dan Bandung pada kalah dengan penampilanmu. Geulis euy[26]...!”aku mengacungkan dua jempol ke arahnya.
“Jangan berlebihan begitu dong...nanti aku jatuhnya sakit kalau pujianmu terlalu tinggi, he-he-he. Terimakasih ya cinta! engkau berkenan hadir dan mendampingiku saat bahagiaku. Dadaku berdebar nih”ujarnya sambil memegangi dada. Akad nikah baru akan dilangsungkan di masjid Raya Baiturrahman sekitar empat puluh menit lagi.
“Tenang saja, mantapkan hati, putihkan niat, gumamkan doa agar akadmu nanti tiada aral dan halangan.”aku mengukuhkan jiwanya. Lalu kupeluk ia dengan erat, seolah-olah aku enggan melepaskannya. Entahlah...mungkin ini pelukan terakhirku sebagai shahabat ketika masih sama-sama sendiri. Esok mungkin nuansanya sudah lain, karena disisinya telah ada sesosok yang akan mengisi hari-harinya dengan goresan tinta indah.
Di masjid Raya Baiturrahman, prosesi akad nikah berlangsung lancar. Kuabadikan momen indah itu dari handycam yang kubawa. Ada bulir-bulir bening yang jatuh dikedua pipi shahabatku itu yang kutangkap dari layar kamera. Hal-hal yang haram untuk kedua mempelai dulu, kini terhalalkan sudah, malahan tiap bersentuhan keduanya berbunga pahala dan beraroma surga.
Setelah itu, acara dilanjutkan dengan sungkeman[27] dengan suaminya tercinta, orangtua dan mertuanya. Selesai seremoni itu dia langsung menghambur kearahku. Tangis bahagianya pun pecah...
“Ba...ba...barakallahu laka wa baraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fii khair[28]. Selamat melabuh dan merayakan cinta! duhai shahabatku.”tak terasa akupun larut dalam tangis bahagianya. Penghuni-penghuni kolong langitpun menguntaikan kalimah amin... menyambut pintaku.
“Jazakillah khairan,[29] sampai kapanpun engkau tetap menjadi permata indah yang berkilau di sudut hatiku. Meski kini statusku sudah menjadi nyonya.”suaranya tercekat.
“Ya-ya-ya, engkau juga tetap rembulan teduhku. Biarlah bentangan langit menjadi saksi, biarlah desau angin mengabari.” Kuhapus guliran airmata bahagia yang bergulir di pipi putihnya dengan sehelai tisu.
“Oh-iya...ini ada sebuah ‘bingkisan cinta’. Bila engkau rindu aku, bukalah isinya. Aku akan ada dihadapmu saat itu juga.”
Kuambil kado yang sudah aku persiapkan dan kubawa dari Bandung, entah kenapa tiba-tiba tanganku gemetaran. Hingga kado itu meluncur jatuh ke lantai.
Refleks tanganku mencoba menggapai ...
Tapi luput......
“Ukhti...”panggilan Nadhifah dari samping menyadarkanku dari alam mimpi, wajahku merona merah.
“Kita sudah sampai mana?”aku mencoba mengalihkan perhatiannya dari tanganku yang menggapai-gapai tadi. Memang ketika badanku agak kurang enak, aku suka bermimpi yang agak aneh-aneh.
“Sudah di Kotabumi Lampung. Ukhti nampak lelap jadi ketika bus berhenti di RM. Begadang III tadi, ukhti memang sengaja tidak ana bangunkan. Tapi, tadi ana sempat turun sebentar. Ini ana bungkusin sate padang.”sahut dia. Tadi di Merak, aku memang cuma berbuka roti donat dan air mineral. Perutkupun juga sudah mulai bernyanyi minta diisi.
“Kita makan berdua ya!”pintaku ke dia. Nadhifah menganguk, jadilah kami makan keroyokan menghabiskan sate plus lontong itu, sungguh nikmatnya makan berdua dengan shahabat baruku yang sangat perhatian. Diiringi guncangan-guncangan kecil dari badan bus, jalan Lintas Timur memang rusak parah, banyak lubang di sana-sini. Gara-gara truk tronton yang mengangkut gelondongan kayu hasil illegal logging[30] dari hutan di Sumatera ditambah lagi pejabat penimbang truk barang yang tidak amanah, sogok menyogokpun terasa lumrah. Lengkaplah sudah penderitaan jalan trans Sumatera ini.
“Syukron[31] ya! afwan[32]kalau selalu merepotkan ukhti”setelah makanan
tadi tandas di mulut kami.
“Biasa saja ukh...Eh bagaimana sudah tidak sakit lagi kan?”dia balik bertanya.
“Alhamdulillah, sudah baikan kok.”
Suasana jalan kembali lenggang, kadang bus berpapasan dengan truk fuso sesekali sesama bus lintas Sumatera juga meramaikan badan jalan. Sinar rembulan menyelusup lewat jendela bus menerpa wajahku. Kulihat Nadhifah sudah mulai memejamkan matanya, kelihatannya dia kecapekan.
***
Palembang, 23 Desember 2004 (09.00)
Bus berhenti di RM Pagi Sore, ketika aku dan Nadhifah melangkahkan kakiku memasuki restoran, banyak orang berkerumun di depan TV yang berlayar lebar. Tapi aku mengacuhkan itu, dan langsung pergi ke toilet wanita di bagian belakang restoran, sedang Nadhifah memesan Pop mie plus teh panas untuk kami berdua.
Ketika aku kembali dari belakang Nadhifah menyambutku di depan pintu dan langsung menyeretku untuk ikut melihat apa yang ditonton oleh banyak orang yang berkerumun itu.
Tubuhku melemas, tenggorokanku menyesak. Dari laporan pandangan mata sebuah stasiun televisi swasta, nampak bumi Serambi Mekkah telah porak poranda. Mayat-mayat bertebaran dimana-mana. Masjid Raya Baiturrahahman salah satu dari sedikit bangunan yang masih tersisa. Subhanallah...Allahu Akbar ini salah satu mu’jizat dan kuasa-Nya, padahal bangunan-bangunan beton di sekitar masjid telah luluh-lantak serata tanah diterjang air bah. Sungguh Allah ingin menyatakan sebuah ‘pesan’ kepada banyak insan untuk menjaga ‘rumah-Nya’ dengan ikhlas untuk menerapkan syariah Islam yang telah memudar di bumi-Nya.
Ya..lempengan bumi yang bergeser di laut Banda menyebabkan gempa dahsyat ditengah laut. Gempa yang berkisar 9,5 skala richter itu menimbulkan gulungan ombak setinggi pohon kelapa. Menyapu apa saja yang dilewatinya tanpa ampun. Ya..pagi yang akan aku kenang selama hidupku sebagai peristiwa memilukan yang membekas dalam sanubari.
Duhai Allah, begitu Maha Perkasanya Engkau, hanya dalam sekejap dan dengan mudahnya bumi indah itu kini terlumat oleh ganasnya gelombang pasang.
Aku langsung jatuh terduduk di lantai, Nadhifah langsung menyangga tubuhku dan mendudukkan kepalaku di pangkuannya. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun[33] kusenandungkan syair sendu yang mengharu biru di langit-langit hatiku.
Kepada siapa lagi aku akan mengadu selain kepada-Nya. Manusia hanyalah setitik noktah. Mungkinkah karena banyak insan yang berselimut kesombongan di bumi-Nya saat ini hingga menyebabkan Allah Swt. Sang Pemilik jiwa murka. Mungkin banyak insan yang telah lupa akan hukum-hukum-Nya yang mensebabkan Allah mengirim teguran cinta agar insan kembali ke pangkuan-Nya dengan kepolosan hati.
Untuk sepersekian detik jiwaku mengembara entah kemana. Hanya terlihat kabut putih di hadapanku. Langitpun tak kutahu warnanya, entah biru atau jingga.
Terasa ada bau yang menyengat yang menusuk di hidungku. Ketika lamat-lamat kubuka mataku, Nadhifah masih ada disampingku. Dengan lembut dan penuh kasih ia mengoleskan minyak kayu putih di keningku.
“Alhamdulillah, ukhti sudah sadar. Ini diminum dulu air putihnya agar tenang.”dia menyorongkan segelas air putih di depan mulutku. Setetes air yang kuteguk serasa menutup saluran tenggorokanku. Pikiranku masih melayang, bagaimana nasib Abi,Ummi dan adekku. Apakah mereka selamat? Atau...atau... ah..kuusir jauh jauh pikiran buruk yang berkelebat di depanku.
Tiba-tiba...
Meutia...ya Meutia, entahlah satu bayangan anggunnya kini memaksa berkelebat dihadapanku.
Ah...bagaimana kabarmu duhai cintaku? hari ini seharusnya prosesi akad nikahmu? Kamu pun sudah berjanji untuk mengabariku ketika akad sumpah itu usai. Adakah engkau masih di alam ini atau engkau dengan tega meninggalkan aku shahabatmu dilautan penantian rindu? Jangan...jangan engkau tinggalkan aku dalam keadaan begini, aku pasti tidak akan kuasa lagi menahan beban rindu di hati.
Ada setitis gulir basah yang menetesi kedua pipiku. Ah...kuusir pikiran-pikiran buruk yang berkelebat di benakku.
Semoga dia selamat, semoga aku masih bisa memeluk tubuh anggunnya, semoga aku masih bisa berbagi canda-tawa. Semoga kami masih bisa menatap panorama senja di pantai Meulaboh.
***
Badanku masih sulit kugerakkan, aku memberi isyarat ke Nadhifah untuk mengambilkan hp-ku di tas. Dengan sigap Nadhifah mengambilkan telpon seluler itu dari dalam tas.
Kupencet nomor telpon rumahku, tak ada nada sambung sama sekali. Gemuruh hatiku kian tak tertahan. Kucoba menghubungi nomer hp Abiku...hanya nada sela dari operator yang menjawab, kalau nomer yang aku hubungi di luar area. Masih kugumamkan doa agar hp ummi bisa menangkap panggilanku.
Nihil ....
Deras kristal-kristal berguguran dari sudut mataku. Tidak kupedulikan tatapan-tatapan mata pengunjung restoran yang merasa keheranan dengan apa yang terjadi dengan diriku.
Pasrah...hanya itu yang bisa aku lakukan saat ini. Menyerahkan sepenuhnya kepada Kuasa Ilahi.
Aku hanya sempat menyeruput sedikit pop-mie dan teh panas. Karena bus akan melanjutkan perjalanan. Nadhifah kembali memesan sate padang plus lontong untuk dibungkus.
Sepanjang perjalanan Palembang-Pekanbaru aku hanya membisu. Tidak ada lagi keindahan disisi jalan yang bisa menarik perhatianku. Meski Nadhifah juga menghiburku dengan candaan-candaan segarnya. Tapi jiwaku sudah tertirai selimut hampa dan lelehan airmata yang tak pernah kering dalam perjalanan panjang ini.
Rabbi..
Kuatkan hamba...
Tabahkan hati...
Naungi keluarga dan shahabatku dengan setitis Kasih-Mu

Sampai dinihari di Pangkalan Kerinci, belum juga ada titik terang nasib keluarga dan temen-temenku yang di Aceh.
Tiba-tiba hp-ku berdering.
Tertera dari nomer telpon rumah nenek yang di Deli Serdang.
Klik
“Assalamu’ alaikum,” intonasi suara yang kuhapal benar.
Ummiku !
“Kamu jadi pulang? Sudah sampai mana? Maaf tadi hp Abah dan Emak lagi kehabisan baterai. Disini sinyalnya juga sangat sedikit.”
Alhamdulillah, entah bagaimana ceritanya tiba-tiba ummi dan abi bisa kebetulan di Medan saat ini. Secercah cahaya hidupku kembali pulih.
“Wa ‘alaikum salam. Jadi mi.... ini Sarah sekarang sudah sampai di Pangkalan Kerinci. Insya Allah siang sudah sampai Pekanbaru. Bagaimana kabar abah dan adek?”tanyaku dengan nada khawatir.
“Mereka juga disini, mungkin kalau nenekmu tidak sakit dan kami tidak menjenguk kemari, entahlah apa kami masih bisa menatap wajahmu lagi.” Ada suara yang mencekat diujung sana.
Tak henti-henti aku memuji Kebesaran-Nya. Alhamdulillah Engkau masih memberi hamba kesempatan untuk lebih lama berbakti kepada orang tuaku.
Dari ummi aku tahu kalau rumah kami juga ikut terhanyut, juga ruko kainnya Abi ikut terbawa arus gelombang. Syukurlah Abi masih punya bisnis perkebunan sawit yang diwariskan nenek di Deli, yang pengelolaannya diserahkan ke paman, juga kebun teh yang ada di kabupaten Kerinci di Jambi.
Satu potongan belahan jiwaku sudah kembali bercahaya. Meutia...ya tinggal satu nama itu yang terus mengusik ketenanganku. Bagaimanapun sesosok belahan jiwaku yang satu itu masih belum ada kabar beritanya. Nomer hp-nya benar-benar tidak bisa kuhubungi. Rabbi...sinarkan kembali satu belahan jiwaku agar cahaya jiwaku kembali pulih total.
Ah...semoga engkau baik-baik saja di sana.
***
Sampai di Pekanbaru, ummi menyuruhku ganti memakai pesawat biar lebih cepat sampai kerumah nenek.
Setelah mampir sebentar di rumah Nadhifah, aku langsung diantar ke Bandara Simpang Tiga. Aku ingin cepat-cepat kembali ke pangkuan abi dan ummiku, memeluk erat dan menumpahkan kerinduanku hanya itu keinginan terkuatku. Dengan terpaksa kupatuhi perintah ummi, meski sebenarnya aku tidak begitu suka dengan naik pesawat terbang.
Aku banyak mengucapkan terima kasih ke Nadhifah, shahabat dalam perjalanan panjangku itu, atas semua perhatiannya. Aku juga berjanji akan main ke kosnya setelah pulang ke Bandung kelak.
Burung besi pun terbang meninggi di birunya langit, menyelinap di antara gumpalan-gumpalan awan. Langit mulai mendung...semendung suasana hatiku yang masih belum menerima kabar dari Meutia.
Sekitar empat puluh menit mengawang di angkasa, pesawat yang kutumpangi kemudian mendarat di bandara Polonia. Abi dan ummiku datang menjemput, kamipun kemudian melaju ke Deli dengan memakai mobil paman.
***
Dua minggu setelah tsunami, kesehatan nenek kembali pulih. Aku, abi dan ummi kembali ke Aceh. Sedang adik dititipkan di rumah nenek.
Aduhai...bumi megah dan indah itu kini benar-benar tinggal puing-puing berserakan. Termasuk rumahku kini hanya tinggal tumpukan dinding-dinding beton yang saling bertindihan.
Meski dua minggu setelah peristiwa tsunami berlalu, masih banyak mayat yang berserakan di pinggir jalan. Relawan yang datang berduyun-duyun baik dari mancanegara maupun dari saudara sendiri dari seluruh pelosok negeri ternyata benar-benar kewalahan untuk menanganinya.
Aku bergegas ke Meulaboh ke rumah Meutia. Rumahnya memang hanya berjarak satu kilometer dari bibir pantai. Tak ada yang tersisa, semua rata dengan tanah. Lagi-lagi mu’jizat-Nya menampakkan diri, ada beberapa masjid yang berdiri kokoh tak tersentuh sedikitpun dengan gelombang dahsyat itu. Allahu akbar...kembali kudapati keMahabesaran Ilahi.
Tak ada jejak rembulan teduh-ku itu. Mendung mulai menyapa langit hatiku, hembusan angin sepoi pantai-pun memecahkan gumpalan mendung yang menebal hitam itu dan gerimis di pelupuk mataku mulai bergulir deras.
“Sampai kapanpun engkau tetap menjadi permata indah yang berkilau di sudut hatiku.” masih terngiang dengan jelas untaian kata-kata Meutia di dalam mimpiku dua minggu lalu. Dan gerimis itu sekarang telah menjadi hujan badai dalam jiwaku.
Duhai bidadari...duhai rembulan teduhku...
Tegakah engkau meninggalkanku diujung penantian rindu? Tidak bisakah engkau menghampiriku dan menghapus kristal-kristal bening yang bergulir ini? Tidak bisakah engkau bertutur indah tentang prosesi akad nikahmu? Tidak bisakah aku mengecup kedua pipimu nan melembut? Tidak inginkah engkau menyentuh kedua lesung pipitku yang sering engkau kagumi itu?
Senja telah menyapa di pantai Meulaboh, warna merah kekuning-kuningan di ufuk barat terlukis di bentangan cakrawala. Tidak ada warna keindahan di ‘lukisan alam’ itu. Padahal dulu semasa masih di SMU aku dan Meutia bisa berjam-jam menatapi keindahan panorama senja, menatapi mentari yang mulai bersembunyi sedikit demi sedikit diujung horison sambil di selingi tukar-menukar puisi-puisi hati dan bertukar pengalaman hikmah yang terpetik hari ini.
Kualihkan pandanganku dari pemandangan senja, yang hanya mengingatkanku kepada shahabatku tercinta. Biarlah dia tetap indah diujung sana meski di sini hatiku dirundung nestapa.
Abi menghampiri dan menggandengku. Kutatap lagi reruntuhan rumah Meutia, aku berjanji akan kembali lagi. Sampai sang rembulan teduh itu menampakkan diri.
Ya..itulah janji hatiku.
***
Di tenda posko ‘Nisa’ TMU[34] Aceh di dekat dengan masjid Raya Baiturrahman tidak kusangka aku berjumpa dengan Teuku Rafli temen satu SMU dulu, memang dia yang menjabat sebagai ketua Rohis SMU al-Quds. Dan yang lebih mengejutkan lagi ternyata dia-lah sebenarnya suami Meutia.
Duhai rahasia apalagi yang engkau sembunyikan dariku, cinta!
“Sungguh teganya engkau duhai rembulanku. Begitu rapi engkau menyimpan kisah-mu.”ujarku sambil menutupi kedua wajahku yang sembab. Ah..nampaknya hujan badai akan datang lagi. Bahkan mungkin lebih dahsyat lagi, karena awan gelap telah mulai tampak di langit hatiku.
“Ukhti...setelah prosesi akad nikah kami senandungkan, gelombang dahsyat itu datang menghampiri kami. ‘dia’ sempat mencium tanganku dan ayah-ibunya juga ayah-ibuku.” Rafli berhenti sejenak, mecoba menguatkan hatinya untuk bisa terus bertutur.
“Sebenarnya, ana sempat memegang tangannya, tapi derasnya arus menghantamkanku ke pohon dan pegangan kamipun terlepas.” Aku memegang erat tangan Abi...menguatkan hatiku yang mulai retak dan hancur luluh berkeping-keping.
“Satu hal yang harus ukhti ketahui. Meutia memang sengaja merahasiakan namaku sebagai calon suaminya ke ukhti...bukan maksud apa-apa, dia ingin memberi kejutan indah untukmu. Tapi qadha-Nya[35] berkata lain. Afwan[36]..sebenarnya ana kurang setuju dengan idenya ini. Tapi ia bersikeras untuk menyimpan rahasia ini sampai ukhti datang di acara syukuran walimahan kami. Sungguh...dia tak bermaksud lain. Sebenarnya ana ingin acara akad dan syukurannya sewaktu, tapi karena ia ingin ukhti bisa hadir di hari bahagia kami, maka dia meminta acara syukurannya di tunda sampai ukhti selesai memasukkan skripsi ukhti ke dosen.” Ada tetes bening bergulir di wajahnya.
***
Kukabarkan berita hilang dan belum ditemukannya Meutia ke Nadhifah yang sudah pulang ke Bandung duluan.
“Ukhti...Andai aku boleh memilih..Andai putaran waktu masih bisa diputar ulang. Ingin rasanya aku tidak pulang ke Aceh, tapi aku akan meminta pulang dilain waktu, dimana aku masih bisa bertemu dengan shahabat tercintaku. Daripada aku pulang kini, tapi hanya sepenggal kisah sendu tentang rembulan teduhku yang harus kuteguk.”
Balasan sms dari Nadhifah berderit
“Shahabat...semoga engkau bisa bercermin dari ayat ini: apabila ajal itu sudah datang, tidak dapat mereka (berusaha) mengundurkan atau memajukannya walaupun sesaat.[37] Semoga engkau ta’bah dan menerima qadha-Nya. Sungguh ini adalah badai...badai yang telah termaktub dalam Alam Malakut-Nya[38]. “Bencana yang terjadi di bumi atau atas dirimu sendiri telah tertulis di dalam Kitab sebelum Kami melaksanakannya. Sesungguhnya hal demikian itu mudah bagi Allah.[39] Sungguh..ini adalah ujian keimanan untukmu duhai shahabatku. Semoga engkau bisa mulus melaluinya. Salam sayang!”
Hari ini aku kembali lagi ke pantai Meulaboh. Reruntuhan rumah Meutia terlihat dari pinggir jalan yang kulalui. Besok aku harus kembali ke Bandung karena satu minggu lagi aku akan sidang skripsi.
Kuambil kado mungil dari dalam tas, kuberjalan di bibir pantai yang membentang. Kulihat lagi tulisan tangan yang aku ukir di atas kertas mungil biru langit, itu warna kesukaan kami berdua.
Untuk Sepasang Cinta yang Berbahagia-
Kala akad telah terucap
Ada harap nan diucap
Harapkan berkah Allah tercurah murah
Cinta suci dibuhul satu ikat
Ikatan suci mitsaqan ghaliza[40] sebagai perekat
Agar Allah menghamburkan berkat
Agar Allah taburkan rahmat[41]

Kutatap kakilangit diujung laut sana, kulangkahkan kakiku hingga menyentuh birunya air laut yang berbuih dihempas oleh riak-riak gelombang kecil.
Cintaku...
Dengarlah gemuruh hatiku
Dengarlah senandung lara jiwaku

Ada segenggam rindu nan bergelayut
Ada asa nan membuncah tercacah
Ada sekeping hati teretak gelombang rencah

Rekahkan senyum-mu diujung nanti
Agar rindu ini terobati
Agar pedih tertutupi

Kuletakkan kado itu dipermukaan air laut yang berkecipak, satu hembusan gelombang datang menghampirinya dan perlahan mulai menariknya ketengah. Berayun-ayun mengikuti irama riak gelombang. Kupandangi ia hingga mengecil dan kemudian menghilang di tengah lautan. Sehilang satu asaku di pantai Meulaboh-ku ini.
Biarlah ia menghilang...biarlah ia mengembara di lautan yang tidak berujung, seperti selaksa rindu yang memayungiku kini. Biarlah sekeping hatiku patah, untuk sesosok rembulan teduh yang selalu bersinar di sudut hatiku.
“Tetaplah menjadi rembulan teduh yang selalu menerangi bumi dengan cahaya kemilaumu” Ya... aku akan selalu disini, memancari dan menerangi bumi seperti pintamu, meski rembulan itu sekarang sungguh telah retak. Kata-katamu akan selalu menjadi pelita hidup dan menjadi bara dalam melangkah dan menapakkan dakwahku. Untaian katamu akan selalu kusenandungkan di penghujung malam, agar rindu ini terbaluti dan terobati dengan rekahan senyum-mu di alam sana.
Akan kurajut dan kurangkai lagi serpihan-serpihan hati untuk menatap mentari di ufuk timur esok.
Selamat jalan cinta
Semoga pelangi-Nya menyinarimu selalu
Semoga sinar teduhmu membersamaiku
Kurindukan engkau diujung waktu

Setetes Embun Yogya, 30 Juli 2007 (22.22)
Alhamdulillah, washolawatu ‘ala rasulillah
Kutulis dengan gerimis cinta!
Nan faqir ilmu
Apu’ El Indragiry

Inspirasi Cerpen
· Artikel wawancara guruku
KH. Ir. Muhammad Shiddiq Al-Jawi di majalah al-Wa’i No.28 tahun VIII, 1-30 Juni 2007
Bertajuk :Pengkhianatan Penguasa Banyak Ragamnya.
Silahkan dibuka di situs: www.khilafah1924.org
· Alhamdulillah..tsumma alhamdulillah ‘ala ni’mati hikmah. Akhirnya ada inspirasi untuk membuat cerpen, tentang pengalaman perjalanan nan melelahkan Yogya-Jambi selama 2 hari 2 malam di atas bus Patas Executive ‘Putra Remaja’ langgananku kalau balek kampung ke Riau. Satu untaian kalimat bijak yang selalu terngiang di benakku ”Sebuah perjalanan adalah saat yang indah untuk meraup inspirasi”. Sungguh...kalimat hikmah berbalut mutiara, dari seorang shahabatku di Medan. Akhirnya ... kalimat itu berbuah indah.
· Acara walimatul ‘ursy shahabatku Aris & Sari, di Semarang 7.7.2007
Angka yang indah semoga terpetik barakah nan meruah menumpah.

· Jazakumullah khairan tsumma ahsanul jaza, ‘tuk para ‘Bidadari’ nan berkenan mencurahkan hati, mengungkapkan harap dan asa di polling SMS untuk bahan novel ‘The Miracle Akhwat’-nya apu’. Yang tak bisa kusebut namanya satu persatu.
“Kokohkan hati
Tuk selalu mewarnai bumi Ilahi dengan keteguhan hati
Teteskan embunmu dikegersangan bumi ini
Nan masih tergelapi sistem buatan insani.”

Kucuba ‘tuk menuangkan kata-kataku lewat bait-bait pintamu.
· Lagu Kisah dan Doa dari Rafli. Do Do Daidi dan Payong Keunagan dari Cut Rizka. Lagu sendu nan menemani dalam penulisan cerpen ini. Sungguh kristal-kristal di belahan pipi ini tak bisa menipu diri.

Special dedicated to:
Bumi nan dianugerahi keindahan
Bumi nan terberkahi Ilahi
Nanggroe Aceh Darussalamku-

Semoga tiap mushibah bukan menghalangi diri ‘tuk merintihi taubah Semoga engkau ta’bah
Agar Allah Swt menaburimu dengan berkah nan melimpah
Agar sinar pelangi-Nya memancarimu

Sungguh...tiada satupun peristiwa di dunia ini,
Selain telah termaktub dalam kitab-Nya.

Semoga ada pantulan cermin dari ayat ini:
“Bencana yang terjadi di bumi atau atas dirimu sendiri telah tertulis di dalam Kitab sebelum Kami melaksanakannya. Sesungguhnya hal demikian itu mudah bagi Allah. (al-Hadid 22)

Cerpen selanjutnya insya Allah:
-Senandung Cinta di Malaysia
-Qum!

Dua Cerpen sebagai ‘kado doa’ untuk Konferensi Internasional Khilafah Islamiyyah (KIKI) di Tennis Indoor Gelora Bung Karno Jakarta. 12 Agustus 2007.
Sungguh Kado miladku nan terindah!!


[1] Di setujui
[2] Novel yang sedang apu’ kerjakan
[3] Jilbab bukan kerudung (khimar) tapi baju terusan (Jubah) yang longgar. Dikutip dari KH. Ir. Muhammad Shiddiq al-Jawi. (Lihat Puisi-Puisi Cinta, bab Bidadari Di Langit Hatiku, hal,81)
[4] Buku Puisi-puisi Cinta, Bab Bidadari di Langit hatiku
[5] Papan nama
[6] Meringkas shalat, karena sedang melakukan perjalanan jauh, sekurang-kurangnya 80, 60 km (perjalanan sehari semalam). Semua shalat bisa di qasar, kecuali maghrib dan subuh.
[7] Mengumpulkan dua shalat fardhu dalam satu waktu, kecuali shalat Shubuh.

[8] Pembina
[9] Seorang kerabat dekat, (orang yang tidak boleh dinikahi)
[10] Dengan menyebut nama Allah, hanya kepada-Mu lah aku berserah diri. Tiada kekuatan selain dengan kuasa dari-Mu.
[11] Allah Yang Maha Melindungi/Menjaga
[12] Dikutip dari seorang shahabat
[13] Khalifah yang memimpin pada masa dinasti Bani Umayyah, disebut-sebut sebagai khalifah kelima karena kemasyhurannya memerintah dengan sangat jujur dan adil. Pada masa ini Islam mengalami puncak kejayaannya. Bahkan tak ada rakyat yang mau menerima zakat karena saking makmurnya negeri pada masa itu. Ibunya masih ada garis keturunan dengan Umar ibn Khattab.
[14] Pelayan rakyat
[15] Pertolongan
[16] Artikel KH. Ir. Muhammad Shiddiq Al-Jawi di majalah al-Wa’i No.28 tahun VIII, 1-30 Juni 2007.
[17] Suku asli (pedalaman) di Riau
[18] Trans National Corporation/TNC
[19] Setelah
[20] Memikirkan, merenungi
[21] Ayat tersurat (al-Qur’an)
[22] Ayat tersirat (apa-apa yang tercipta,kejadian di semesta alam-Nya)
[23] = Sakinah, Mawaddah wa Rahmah
[24] Sepemikiran, seide, seperjuangan
[25] Sandaran kaki, khusus di bus Patas Executive class
[26] Cantik sekali, bhs Sunda
[27] Cium tangan
[28] Semoga berkah Allah tetap untukmu, dan semoga berkah Allah tetap atasmu dan semoga Allah mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan. (HR. Imam Tarmidzi, Abu Dawud dan Ahmad)
[29] Semoga Allah membalas kebaikanmu
[30] Pembalakan kayu liar
[31] Terima kasih
[32] Maaf
[33] Sesungguhnya kita ini milik Allah, dan sesungguhnya hanya kepada-Nya lah kita akan kembali
[34] Tabanni Mashalih Ummah
[35] Ketentuan-Nya
[36] Maaf
[37] Al-A’raaf:34
[38] Kekuasaan-Nya
[39] Al-Hadid:22
[40] Perjanjian berat/suci
[41] Buku Puisi-Puisi Cinta, Sebuah Bingkisan Cinta untuk Sahabat

1 comment:

Anonymous said...

Assaamu'alaikum wr wb, salam knal ukh, oya ana suka cerpennya, n jd ada inspirasi bwt kata2 mutiara untuk sobat ana yg nikah, oya slahkan kunjungi rumah ana di www.rayyan07.multiply.com